Diberdayakan oleh Blogger.

q

Tampilkan postingan dengan label Tecnology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tecnology. Tampilkan semua postingan

Asus Hadirkan Zenfone Terbaru Seharga Rp1,8 Juta

|| || || Leave a komentar
Asus Hadirkan Zenfone Terbaru Seharga Rp1,8 Juta
CALIFORNIA - Petinggi perusahaan produsen ponsel asal Taiwan, Asus, dikabarkan segera menghadirkan seri terbaru dari smartphone Zenfone. Namun, kehadirannya kali ini tidak didukung dengan dapur pacu prosesor Intel.
Seperti dikutip dari Phone Arena, Kamis (13/11/2014), CEO Asus Jerry Shen mengungkapkan bahwa generasi kedua dari smartphone di keluarga Zenfone akan hadir dengan sejumlah fitur baru. Lalu kabarnya, dapur pacu yang digunakan tidak lagi menggunakan prosesor Intel.
Sebelumnya, Asus memang menghadirkan produk smartphone berbasis Android seperti Zenfone 4, 5, dan 6 dengan menggandeng produsen chipset asal Amerika Serikat yakni Intel. Tetapi, kehadiran generasi terbaru dari keluarga Zenfone ini dikabarkan menggandeng produsen chipset lainnya.
Asus Zenfone generasi kedua sendiri kabarnya hadir dan ikut meramaikan pameran perangkat elektronik dunia Consumer Elektronik Show (CES) 2015. Namun sebelumnya, Asus akan menunjuk China sebagai lokasi rilis perdananya.
Jerry Shen mengatakan bahwa semua smartphone Zenfone terbaru yang ditenagai Intel dan memiliki dukungan konektivitas LTE ini dibanderol USD300. Tetapi untuk seri kedua dengan dukungan tanpa prosesor Intel akan dijual dengan kisaran USD150 atau Rp1,8 juta.
Sayangnya, pihak perusahaan tidak mengungkapkan produsen chipset yang akan digandeng oleh Asus nantinya. Hanya kabarnya, Asus akan menargetkan penjualan meningkat sebanyak 16 juta unit di 2015 dari total penjualan sebanyak 8 juta unit pada 2014.
(ahl)

Sumber

Nasib BlackBerry Ditentukan Tahun Ini?

|| || || Leave a komentar
Nasib BlackBerry Ditentukan Tahun Ini?
JAKARTA - Setelah meluncurkan BlackBerry Z3 (Jakarta) sekira pertengahan 2014, kini BlackBerry mengumumkan kehadiran BlackBerry Passport. Dengan banderol Rp9,6 juta, handset tersebut akan bersaing dengan smartphone Android, yang dijual dengan harga yang lebih terjangkau. Akankah perusahaan asal Kanada itu dapat sukses menjajakan dagangan seri terbarunya di Indonesia?
Menurut Ketua Umum Ketua Umum Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI), Ina Hutasoit, bila apa yang ditawarkan BlackBerry tidak berbeda dari yang sebelumnya, maka siap-siap sulit untuk memenangkan persaingan dengan produk-produk unggulan lainnya.
Berbeda ceritanya jika BlackBerry memiliki produk yang jauh lebih unggul dengan pesaingnya, terutama Android, Ina meyakinkan BlackBerry kemungkinan bisa merebut kembali pasar Indonesia.
Soal BlackBerry Passport yang dipatok Rp9 jutaan, menurutnya di luar sana masih banyak produk yang lebih bagus di kisaran harga itu. “Dengan brand lain di harga segitu, saya rasa di luar itu masih banyak yang bagus kok (selain BlackBerry). Ditambah, persaingan harga juga sangat ketat,” tuturnya.
Melalui BlackBerry Passport, perusahaan mencoba peruntungannya lagi di Indonesia. Akan tetapi, apakah itu juga akan mendongkrak penjualan? Heru Sutadi, Eksekutif Direktur ICT Indonesia berpendapat bahwa tahun ini adalah penentuan nasib baik buruknya bisnis ponsel hitam itu. "Nasib BB akan dapat dilihat dari satu atau dua tahun ini. Mereka rugi, tetapi memang kerugiannya agak menurun, kantornya dijual, kerugian yang besar tertutupi," kata Heru Sutadi saat dihubungiOkezone, di Jakarta, Selasa (11/11/2014).
Heru menjelaskan, adanya seri BlackBerry Jakarta (Z3) yang dirilis beberapa waktu lalu juga dirasa kurang mendongkrak penjualan handset BlackBerry. "Enggak ngangkat. Seolah-seolah Jakarta, tapi gak ngangkat. Kebanggaan pakai BB-nya sudah lewat, momentum loyalnya tidak dijaga. Kenapa FB beberapa waktu lalu datang ke Indonesia, agar menaikkan ratingnya, yang mulai tersaingi dengan Twitter. Rating puncaknya 2010-2011 kalau BB. Sekarang sudah berat," pungkasnya.
Heru lebih lanjut mengungkapkan, BlackBerry kehilangan momentum untuk bisa mendapatkan antusiasme yang tinggi dari pemerintah Indonesia untuk membangun pabrik atau server di Indonesia. "Sudah terlambat, momentum itu kadangkala tidak datang dua kali. Sekarang orang bisa pakai BBM (BlackBerry Messenger) di platform yang lain. Ramai juga aplikasi WhatsApp dan sebagainya," tambahnya.
Seandainya BlackBerry bangun pabrik dan server di Indonesia, barangkali kondisinya mungkin tidak merosot seperti saat ini. "Andai kata, mereka bangun pabrik 2009-2010, orang Indonesia ada rasa nasionalisme juga. Pemerintah akan meng-endorse. Mereka berkontribusi kalau misalkan bangun pabrik, SDM dari kita, dari orang Indonesia. Pabrik di Indonesia, tentunya kita ada kontribusi. Orang Indonesia banyak, lulusan kampus, ITB, UI dan lain-lain, kalau kita tidak menyediakan lapangan kerja, akhirnya banyak pengangguran. Kita lihat pola ekonomi, apa yang kita beri, apa yang kita terima," jelasnya.
Sumber

Dual Core Tak Kalah dengan Octa-Core

|| || || Leave a komentar
Dual Core Tak Kalah dengan Octa-Core
JAKARTA - Ketika membeli perangkat tablet, performa adalah faktor yang penting untuk dipertimbangkan. Mulai dari berselancar di website, menonton video, bermain games atau berkoneksi dengan teman, performa menjadi hal yang utama. Namun performa bukan semata ditentukan oleh banyaknya jumlah core.
Menurut Christopher Kelly selaku head of Intel’s Malaysia Design Center, sangat mudah untuk berasumsi bahwa semakin besar jumlahnya semakin baik pula performanya, tetapi terkadang angka bisa keliru.
“Sebuah core tidak bisa dalam menerima instruksi kemudian memproses hal tersebut. Ini sama seperti kalkulator, punya beberapa kalkulator tidak membantu kita dalam memecahkan penjumlahan sederhana,” terang Christopher Kelly, head of Intel’s Malaysia Design Center, yang membantu mendesain chip Intel dalam keterangan persnya.
Ketika membahas tentang jumlah “core”, dalam sebuah prosesor, lanjut Kelly, semakin sedikit corenya justru menjadi lebih efisien atau berkemampuan ketimbang lebih banyak core. karena ini bukan hanya perkara angkanya, tetapi lebih kepada kualitas dari core tersebut.
Ditambah lagi, terang dia, semakin banyak core yang digunakan, maka harus semakin besar upaya untuk membuat mereka bekerja bersamaan secara efisien.
“Jadi anggapan bahwa ‘semakin banyak core nya berarti lebih baik’ tidak sepenuhnya tepat, karena tidak semua core dibuat setara,” papar Kelly.
Perbandingan Core
Kelly menjelaskan, sebuah core merupakan bagian dari sebuah prosesor yang memproses instruksi untuk komputer. Jadi tiap kali pengguna membuka aplikasi seperti game atau browser, atau bahkan mengetik karakter dalam pesan, instruksi untuk melaksanakan suatu tindakan dilakukan oleh core di dalam prosesor.
“Namun semakin banyak core tidak selalu lebih baik, karena sebagian besar performa tergantung pada bagaimana rumitnya penjumlahan dan juga sebaik apakah core tersebut dirancang untuk bekerja bersamaan,” Imbuhnya
Kelly mengilustrasikan, ketika handset mempunyai lebih banyak core, sama hal nya seperti memiliki banyak musisi dalam sebuah band.
Memiliki lebih banyak musisi berarti semakin besar tantangan untuk memastikan mereka dapat bermain beriringan dan pada tingkat/kemampuan yang sama. Hal ini juga berlaku ketika merubah kertas musik untuk menandakan instrument mana yang memainkan nada tertentu serta bagaimana dan kapan nada-nada tersebut harus dimainkan.
“Di Intel, kita menambahkan lebih banyak core hanya ketika hal ini masuk akal dan kita menggunakan waktu dan upaya yang sesuai untuk memastikan hardware dan software dapat berkerja bersamaan untuk efek yang bagus,” tambah Kelly.
Sehingga menurutnya, jika pengguna melihat jumlah core yang biasanya dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi seperti Candy Crush atau Modern Combat 4, ‘dua’ buah core akan cukup untuk menjalankan aplikasi tersebut dengan lancar.  
“Artinya meskipun dengan ‘delapan’ buah core atau lebih, aplikasi tersebut tidak akan berjalan lebih cepat, tetapi mungkin tampil sama seperti ketika menggunakan sedikit core. Hal itu sama seperti membawa ekstra obeng padahal kunci inggris bisa digunakan,” demikian Kelly. (ADV)

Sumber